Friday, 11 November 2016

Ilmu; Pengertian dan Pembagian


Ilmu merupakan kata yang sering diucapkan oleh siapapun dalam konteks apapun. Kata tersebut sering digunakan oleh para ustadz saat pengajian, oleh guru saat mengajar dalam kelas, dalam buku buku ilmiah atau di pamflet-pamflet yang bertebaran. 

Ironisnya adalah kata tersebut begitu kurang dipahami dengan baik sehingga menimbulkan banyak penyalahgunaan dan disorientasi tujuan dalam mencari ilmu. Maka sebelum membahas lebih dalam tentang suatu ilmu tertentu alangkah lebih baiknya kita mengetahui dulu makna serta definisi ilmu itu sendiri.



Menurut KBBI, ilmu memiliki dua pengertian:

1. Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, illmu pendidikan, ilmu ekonomi, dan sebagainya.

2. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian tentang soal duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu bathin, ilmu sihir, dan sebagainya.
Dua pengertian tersebut jika dianalogikan dengan bahasa Inggris maka akan kita temui bahwa pengertian pertama sesuai dengan makna science sedangkan pengertian kedua sesuai dengan makna knowledge.  Artinya suatu ilmu dianggap sebagai science jika dalam perumusannya menggunakan metode – metode ilmiah pada bidang – bidang tertentu. Sedangkan suatu ilmu dianggap sebagai knowledge jika didapatkan bukan melalui metode ilmiah.

Selain makna tersebut, dalam dunia keislaman juga dikenal definis ilmu yang sedikit berbeda. Dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan bahwa makna ilmu adalah:
إِدْرَاكُ الشَّئِ بِحَقِيْقَتِهِ
“Memahami sesuatu sesuai dengan kesejatiannya”

Pengertian tersebut kurang lebih sesuai dengan pengertian yang diuraikan oleh Al-Imam Al-Qodhi Abu Bakr Al-Baqilani(1) yang menyampaikan bahwa ilmu adalah:
اَلْعِلْمُ مَعْرِفَةُ الْمَعْلُوْمِ عَلَى مَا هُوَ بِهِ فِي الْوَاقِعِ
“Ilmu adalah pengetahuan sesuatu yang sesuai dengan kenyataannya”

Jadi, menurut para cendekiawan Islam, ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan terhadap sesuatu yang sesuai dengan kenyataan dan kesejatian sesuatu tersebut. Dalam definisi ini para cendekiawan Islam tidak menyaratkan adanya metode-metode ilmiah dalam pencapaian ilmu sehingga lebih mirip knowledge daripada science. Namun, sebenaranya ilmu dalam definisi ini juga mencakup definisi science karena suatu pengetahuan bisa dikatakan sebagai ilmu jika berkenaan dengan kesejatian atau kenyataannya yang tentu saja harus didapatkan melalu metode-metode ilmiah yang empiris. 

Maka jika dalam dunia keilmuan umum dikenal istilah science dan knowledge, dalam istilah keilmuan Islam dikenal istilah Al-Ilmu dan Al-Ma’rifah. Al—Ilmu  itu sendiri bersifat menyeluruh dan bisa mencakup science ataupun knowledge asalkan sesuai dengan kenyataan sedangkan al-Ma’rifah dapat diartikan sebagai pengetahuan parsial terhadap seusatu yang belum tentu sesuai dengan kenyatan.


Melihat pengertian-pengertian di atas kiat dapat menyimpulan bahwa ilmu itu memilki makna yang cukup kompleks yang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembagian ilmu itu sendiri bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari cara mendapatkannya ilmu dapat diabagi menjadi al-Ilmu ad-dhoruryy dan al-ilmu an-nazhoriyy(2). Al-ilmu ad-dhoruriyy­ adalah ilmu yang didapatkan tanpa adanya proses berpikir. Contoh pengetahuan kita mengenai rasa gula yang manis. Sedangkan al-ilmu an-nazhoriyy adalah ilmu yang didapatakan melalui proses berpikir. Seperti pengetahuan kita dalam masalah matematika atau pelajaran-pelajaran di sekolah.
Dalam perkembangannya, terdapat ketidakadilan pembagian ilmu terutama pada kurikulum-kurikulum di sekolah. Yaitu pembagian ilmu menjadi ilmu agama dan ilmu umum. 

Seolah-olah saat seorang siswa mempelajari gejala-gejala sosial dalam sosiologi, kejadian masa lampau dalam sejarah, ataupun logika dalam matematika yang dipelajarinya itu hanyalah suatu pembelajaran ilmu “dunia” yang tak ada kaitannya dengan agama. Padahal, seperti diketahui banyak ulama Islam zaman dahulu yang mempelajari bahkan menjadi peletak dasar ilmu-ilmu “umum” modern saat ini. Sebut saja Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Al-Khawarizmi dalam matematika, dan Ibnu Khaldun dalam ilmu sejarah.


Dari fakta tersebut kami rasa lebih adil jika pembagaian ilmu itu dilihat dari perspektif kewajiban mempelajarinya yang oleh para ulama dibagi menjadi dua, yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim (fardhu ‘ain) dan ilmu yang cukup dipelajari oleh beberapa orang sebagai perwakilan atas semua umat muslim (fardhu kifayah). 

Jadi, mempelajari ilmu tauhid, ilmu fiqh pokok, dan ilmu akhlak itu wajib bagi semua muslim. Sedangkan, mempelajari ilmu-ilmu alam dan sosial itu hukumnya fardhu kifayah, artinya cukup diwakilkan oleh beberapa orang saja untuk mendalaminya, akan tetapi tentu saja mempelajarinya tetap mendapatkan pahala.


Selain itu, dalam dunia keilmuan Islam para ulama juga membagai ilmu-ilmu syariat menjadi dua, yaitu ulumul maqoshid dan ulumul wasail(3). Ulumul maqoshid adalah ilmu-ilmu yang mencakup tujuan utama semua muslim dalam beragama. Tentu saja, ilmu inilah yang masuk kepada derajat ilmu yang wajib dipelajari (fardhu ‘ain) karena terdiri dari ilmu tauhid yang mewakili iman, ilmu fiqh yang mewakili islam, dan ilmu tasawwuf yang mewakili ihsan.  

Namun, karena sumber ilmu-ilmu tersebut adalah Al-Quran dan Sunnah yang tertulis dalam bahasa arab serta kebanyakan perumusan dan pewarisannya dituliskan oleh para ulama dengan bahasa Arab maka sangat perlu bagi umat Islam untuk mempelajari ulumul wasail. Pengertian ulumul wasail sendiri adalah ilmu yang berguna sebagai perantara memahami ulumul maqoshid. Yang termasuk ke dalam kelompok ulumul wasail adalah ilmu gramatika dan sastra Arab, seperti ilmu nahwu, ilmu shorof, ilmu balaghoh, ilmu ‘arudh dan lain-lain.
  • Syarhul Kabir ‘alal Waroqot
  • Sulamul Munauroq
  • Madkhal fii tholabil ilmi.


Baca selengkapnya

Friday, 4 November 2016

5 Jenis anak iblis

iblis terkutuk, jenis dan tugas jin

IBLIS itu bapak dari segala jin. Iblis termasuk jenis mahluk gaib. Iblis memiliki sifat sombong. Ketika Allah memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Nabi Adam AS, semua malaikat menaatinya. Mereka semuanya bersujud kepada Nabi Adam. Bahkan ia (Iblis) menyombongkan diri. Kemudian perintah Allah agar bersujud kepada Nabi Adam AS, karena ia di ciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Oleh karena itu, menjadi mahluk terkutuk di sisi Allah SWT.

Iblis mempunyai kerajaan yang sangat besar. Ada pemerintahan, menteri, dan kantor-kantor yang besar. Iblis juga mempunyai wakil, dan lima di antaranya termasuk yang paling berbahaya. Mereka adalah lima anak Iblis.

1. Tsabar
Tsabar bertugas mendatangi orang yang sedang mengalami kesusahan atau tertimpa musibah, seperti kematian keluarga, bencana, dan semacamnya. Kemudian dia melancarkan bisikannya dan menyatakan permusuhan kepada Allah. Dia mendorong manusia untuk berkeluh kesah dan meratap-ratap. Untuk menghindarinya, hendaknya ucapkan doa:
A’ûdzubillâhi minassyaithôni tsabarirrojīmi wajundihi waabnâ ihi (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan, Tsabar, yang terkutuk, serta para pengikut dan anaknya).


2. Dâsim

Dâsim bertugas mencerai-beraikan ikatan pernikahan, mengobarkan rasa benci satu sama lain dalam kehidupan rumah tangga, dan mendorong seseorang untuk menyebarkan aib sehingga menyebabkan pertengkaran dan bahkan perceraian. Dâsim adalah anak kesayangan Iblis. Untuk menghadapinya, hendaknya mengucapkan doa:
A’ûdzubillâhi minassyaithôni dâsimirrojīmi wajundihi waabnâ ihi (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan, Dâsim, yang terkutuk, serta para pengikut dan anaknya).


3. Al-A’war

Al-A’war adalah spesialis dalam urusan mempermudah terjadinya perzinaan. Dia menjadikan indah bagian bawah tubuh wanita ketika mereka keluar rumah. Dia mendorong orang untuk melakukan zina dan memperlihatkan zina sebagai sesuatu yang menyenangkan. Semua hal yang berkaitan dengan zina dan penurunan moral menjadi tugas Al-A’war dan para anak buahnya.


4. Maswath

Tugas Maswath adalah membuat kebohongan-kebohongan, baik besar ataupun kecil. Bahkan kejahatan yang dia lakukan bersama anak buahnya termasuk memperlihatkan diri dalam bentuk seseorang yang duduk dalam suatu pertemuan yang diselenggarakan oleh manusia, kemudian menyebarkan kebohongan yang pada akhirnya disebarkan pula oleh manusia.

5. Zalnabûr

Tempat kerja Zalnabûr dan para anteknya adalah pasar-pasar. Mereka mengobarkan pertengkaran, caci maki, perselisihan, dan bahkan bunuh-membunuh.

Wallâhu ‘alam.

sumber: islampos
Baca selengkapnya

Sunday, 30 October 2016

11 Pemuda muslim Terbaik Sepanjang Sejarah


SEPANJANG sejarah, Islam memiliki pemuda-pemuda hebat pada zamannya masing-masing. Di usianya yang cenderung masih sangat muda, mereka mampu menorehkan karya-karya yang luar biasa. Berikut ini 11 pemuda Islam terbaik sepanjang sejarah.

1. Usamah bin Zaid (18 tahun). Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

2. Sa’d bin Abi Waqqash (17 tahun). Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro.

3. Al Arqam bin Abil Arqam (16 tahun). Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.

4. Zubair bin Awwam (15 tahun). Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

5. Zaid bin Tsabit (13 tahun). Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.


 6. Atab bin Usaid (18 tahun). Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun.

7. Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun). Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.

8. Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun). Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

9. Muhammad Al Fatih (22 tahun). Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.

10. Abdurrahman An Nashir (21 tahun). Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.

11. Muhammad Al Qasim (17 tahun). Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya

Sumber : Ajaibdananeh
Baca selengkapnya

Friday, 21 October 2016

Dokumentasi Kegiatan Rohis Day SMAN Banyumas th 2016/2017


Assalamu'alaikum wr wb

Pada postingan/artikel kali ini saya selaku admin akan posting Dokumentasi Kegiatan Rohis Day SMA N Banyumas, Rohis day ? emang ada. Mungkin kalian bertanya-tanya akah hal itu, ya seperti kebanyakan orang, mendengar kata rohis day pasti akan heran karena kata tersebut jarang atau tidak pernah terdengar sebelumnya. Tapi hal yang harus sobat ketahui Rohis day itu ada, yaitu tepat pada tanggal 23 September.

Maka untuk memperingati hari rohis day, organisasi rohis sman banyumas mengadakan kegiatan untuk menyambut hari tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut sudah terangkum atau terdokumentasi dibawah berikut.

1. Pertama adalah : Pembukaan acara dan pengajian yang diisi oleh Bpk Selamet Riyadi (Pak Sela)
Agar upacara lancar kita tak lupa berdo'a saat pembukaan.





2. Kedua adalah : Bersih-bersih masjid
Biar masjid semakin nyaman, salah satunya dibersihin dong.





3. Ketiga adalah : Bersih-bersih sekre Rohis dan pengecatan kotak infaq
Cape bersih-bersih masjid, tak lupa bersih-bersih sekre dong, markas sendiri, masa nggak di bersihin



4. Keempat : Persiapan pembuatan es buah
Cape bersih-bersih masjid dan sekre saatnya buat makan, biar tenaga pulih kembali.




5. Kelima : Minum atau makan es buah
Setelah dibuat, jangan lupa disantap. Iya lah masa dipajang ? :D




6. Keenam : Foto-foto
Tak lupa, foto2 dong. Walau udah foto dokumentasi, tapi narsis dikit tak apa lah :D










7. Ketujuh : Penutupan
Tak lupa penutupan, sebagai rasa syukur karena telah dilancarkan acaranya




yang mau lihat video juga bisa klik dibawah :


Begitulah rangkaian kegiatan Rohis Day SMA N Banyumas.

Sekian Akhirul kalam Wassalamu'alaikum wr wb
Baca selengkapnya

Friday, 14 October 2016

Apel Itu Haram, Paman


CERITA ini terjadi saat saya datang ke Mesir. Tepatnya di sebuah masjid di Mesir. Saat itu saya tengah melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah saw., shalat tahiyatul masjid, namun tiba-tiba kekhusu’-an saya mengabur, terganggu bau asap rokok yang sangat kuat menyengat rongga hidung saya.

Setelah salam, saya tengok kanan-kiri untuk mencari dimana gerangan sumber bau tersebut. Akhirnya mata saya tertuju pada seseorang yang dari bibirnya saja terlihat kalau dia itu seorang perokok berat, hitam dan bukan merah jambu.

Saya berazam pada diri sendiri, “Setelah selesai shalat, saya akan berbicara dengan orang itu!”

Belum juga sampai ke tempat duduk si perokok, mendadak ada anak kecil sekitar sembilan tahun masuk mesjid, duduk di samping perokok itu. Dan si anak mencium bau asap rokok juga, kemudian terdengar obrolan mereka yang cukup alot.

Anak : Assalamu’alaikum paman, paman orang mesir?

Perokok : Ya betul aku orang mesir.

Anak : Paman kenal Syaikh Abdul Hamid Kisyk?

Perokok : Ya kenal.

Anak : Paman juga kenal Syaikh Jaad al-Haq?

Perokok : Ya kenal juga.

Anak : Paman juga kenal Syaikh Muhammad al-Ghazali?

Perokok : Ya aku juga kenal.

Anak : Paman pernah dong mendengar pendapat dan fatwa-fatwa mereka?

Perokok : Ya pernah.

Anak : Mereka itu ulama dan syeikh yang berkata bahwa rokok itu haram, kenapa paman menghisapnya??

Perokok : Tidak, rokok tidak haram.

Anak : Haram paman, bukankah Allah mengharamkannya? “Allah mengharamkan yang buruk-buruk bagi kalian,” apakah saat paman merokok, paman membaca basmalah dan mengakhirinya dengan membaca hamdalah?

Perokok : Rokok sama sekali tidak haram, mana ada ayat al-Quran yang berbunyi 
وَيُحَرِّمُ عَلَيْكُمُ الدُخَانَ (Allah mengharamkan rokok bagimu).

Anak : Paman, rokok itu haram seperti haramnya apel!!!

Perokok : (sambil marah) Apel haram?! Bagaimana mungkin kamu bisa menghalalkan dan mengharamkan keduanya?

Anak : Coba paman tunjukkan ayat وَيُحِلُّ لَكُمُ التُّفَاحَ (Allah menghalalkan apel)

Perokok itu menyadari hal tersebut, ia merenung dan terdiam dengan ucapan anak tadi. Bahkan dari sudut matanya keluar cairan bening, ia menangis, Subhanalloh.

Sehabis sholat perokok itu mendekati anak kecil, da’i kecil yang menyadarkan dirinya. Ia berkata kepada anak tadi, “Nak, paman berjanji kepada Allah, paman tidak akan merokok lagi sampai akhir hidup paman.”


Sumber :www.islampos.com
Baca selengkapnya

Friday, 7 October 2016

Kabar dari Malaikat untuk Ahli Ibadah 70 Tahun

ABU Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali pernah bercerita dalam salah satu kitabnya, Ayyuhâl Walad, tentang seorang Bani Israil yang begitu taat beribadah kepada Allah. Hamba tersebut menunjukkan kesalehan tersebut hingga tujuh puluh tahun lamanya.

Suatu kali Allah mengutus Malaikat untuk memberi kabar kepadanya bahwa seluruh ibadah yang ia tunaikan itu tidak lantas membuatnya pantas masuk surga.

Saat pesan tersebut disampaikan, sang hamba ahli ibadah berujar, “Kami diciptakan Allah untuk beribadah maka sudah semestinya kami pun beribadah.” Jawaban si hamba di atas selaras dengan bunyi ayat yang tercantum dalam :
Surat ad-Dzariyat ayat 56: “Wa mâ khalaqtul jinna wal insa illâ liya‘budûn (Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku).”

Ahli ibadah itu tak menunjukkan tanda-tanda protes atas kabar dari malaikat, melainkan sekadar menjelaskan bahwa ibadah 70 tahun yang ia lakukan sejatinya hanyalah wujud dari pelaksanaan perintah Allah sendiri.

Malaikat pun kembali kepada Allah dan berkata, “Ya Ilâhi, Engkau lebih tahu apa yang ahli ibadah itu katakan.”

Allah menjawab, “Apabila dia tak berpaling dari ibadah kepadaku, maka dengan kemurahan-Ku Aku pun tak akan berpaling darinya. Saksikanlah wahai malaikat-malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuninya.”





Ibadah sebesar apa pun memang tak akan bisa melunasi seluruh anugerah Allah kepada manusia, termasuk balasan surga. Ritual ibadah, betapapun intensifnya, masih terlalu murah untuk ditukar dengan semesta karunia yang tak terhitung: mulai dari kesehatan fisik, harta benda, keamanan, kemerdekaan, hingga kesempatan dan kemampuan beribadah itu sendiri. Hanya lantaran rahmat Allah-lah manusia layak meraih kemuliaan surgawi.

Namun demikian, hubungan tak sebanding antara ibadah manusia dan karunia Allah itu tak berarti mempersilakan setiap orang berbuat semaunya, lepas dari tanggung jawab ibadah. Sebab, “Siapa tak beramal, ia tidak memetik ganjaran,” kata Imam Al-Ghazali. Hal ini menunjukkan, rahmat Allah kepada hambanya menghendaki adanya ikhtiar manusia yang sedari awal dibekali hati dan nalar.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah juga pernah bertutur, “Barang siapa mengira bahwa tanpa kerja keras ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang melamun. Barang siapa menyangka bahwa dengan jerih payah ia berhasil maka sesungguhnya ia sedang berdoa menuju ‘kaya’.”


Sumber : NU Online
Baca selengkapnya